2024-08-05
sebuah balon merah yang kulepaskan
ke langit kelabu di kota ini
diterpa oleh angin entah ke mana tujuannya
bagai mimpi yang telah lama kutinggalkan
aku masih berdiri di sini
menghitung hari-hari yang kujalani
aku berbaring di kamar gelap ini
sambil menatap jendela
suatu saat, semuanya akan kembali
luka lama, luka baru, luka selanjutnya
suatu saat, semuanya akan kembali
tak peduli berapa lama aku mengobati luka ini
mereka akan muncul kembali lagi
ketidakpedulian orang membunuh yang lemah
tidak apa-apa, selagi kita menjilati luka satu sama lain
biarkan aku merasakan sedikit kehangatan ini darimu
2024-08-01
aku terlena dengan nyanyian para ikan paus
yang akan segera melahap mimpi-mimpiku
dan menghapus segala kesedihan dan ketakutanku
mereka mengajakku untuk tenggelam dalam kebahagiaan
perasaan yang tak pernah kurasakan, aku lupa diriku siapa
inikah caranya mereka menyusup dalam mimpiku?
mereka tak peduli terhadap diriku
mereka hanya mencari makanan mereka saja
mereka akan segera pergi ke biru cakrawala
seolah mimpi-mimpi itu tak terjadi sama sekali
suatu saat mereka akan datang kembali
membawa diriku pergi jauh ke tempat mereka
di mana tak ada seorangpun yang mampu untuk bermimpi lagi.
air yang telah lama mengalir menggenangi tempat tidurku
aroma besi memenuhi kamar kecilku
bunga layu dalam gelas kaca terbengkalai begitu saja
waktu yang terpotong tak kunjung kembali.
warna yang pudar tercampur oleh udara kotor
burung di jam dinding tidak bernyanyi lagi
pemandangan yang kusaksikan bersamamu,
berhenti di sepuluh tahun yang lalu.
luka yang memudar adalah bukti bahwa kita hidup
suatu saat mereka akan terbuka kembali,
dan kita akan dibuat menderita lagi olehnya.
maka dari sekarang kita tertawa saja terbahak-bahak.
di pukul dua belas malam, aku mengingat nafas yang kutinggalkan bersamamu
kata-kata yang terhapuskan oleh air mata kini menjadi saksi bisu kita
jemari kurusmu menyentuh pintu yang telah lama aku kunci
seolah tak peduli hari esok, kau tersenyum seperti biasanya
di hari Rabu aku memotong jendela dan bayangan kita
apakah aku masih bisa berharap bahwa kau ada di sini?
sosokmu yang kian menjauh dariku
kini hanya menjadi sisa kenangan saja
kupikir aku tak akan membuka buku itu lagi;
lembaran kosong menyatakan kehampaan
hanya karena aku kehabisan untuk berpikir.
setiap hari kumemikirkan kata-kata itu
menjadi suatu kalimat yang padu dan asri
namun andaikata semua itu menjadi nyata.
kupikir aku tak akan membuka buku itu kembali;
dengan tangan gemetar kugenggam pena hitamku
dan mulai merangkainya secara perlahan-lahan.