Sisa

di pukul dua belas malam, aku mengingat nafas yang kutinggalkan bersamamu
kata-kata yang terhapuskan oleh air mata kini menjadi saksi bisu kita

jemari kurusmu menyentuh pintu yang telah lama aku kunci
seolah tak peduli hari esok, kau tersenyum seperti biasanya

di hari Rabu aku memotong jendela dan bayangan kita
apakah aku masih bisa berharap bahwa kau ada di sini?

sosokmu yang kian menjauh dariku
kini hanya menjadi sisa kenangan saja